Discussion Board

Akankah Obama Mengulang Kesalahan Bush di Afghanistan?

Invasi AS ke Taliban telah berlalu kurang lebih 7 tahun. Kegeraman AS terhadap serang terorisme Al-Qaeda-lepas dari benar dan tidaknya ‘mitos’ ini- pada 11 September 2001 yang meleburkan menara kembar WTC dengan 3000 korban jiwa, menjadi alasan invasi. Meski serangan balik terhadap ‘the accused’, Al-Qaeda dalam hal ini, harus dibayar dengan harga mahal. Sebuah liputan khusus Metro TV beberapa tahun 2003, menyatakan invasi As ke Taliban memakan kurang lebih 12.000 korban jiwa baik sipil maupun militer, 4 kali lipat dari jumlah korban WTC.

Dengan naiknya Obama, segenap penjuru dunia berharap sebuah warna baru dalam interaksi internasional, termasuk penyelesaian konflik hingga terrorisme sekalipun. Sebuah dunia yang jauh dari perang dan ‘pembunuhan’ warga sipil dengan sia-sia. Kenyataannya tidak. Pidato Obama pada tanggal 27 Maret 2009 lalu mengungkap strategi AS dalam menangani jaringan Al-Qaeda, yang menurut informasi intellejent AS, bercokol di Afghanistan dan Pakistan. Tidak jauh berbeda dengan retorika politik pemimpin AS berikutnya, Obama lagi-lagi mengklaim bahwa keberadaan Al-Qaeda dan kroninya adalah masalah internasional, dan bukan semata ambisi pribadi AS dari PR yang belum selesai.

Tidak mengherankan memang jika Obama mengatakan demikian. Sejak victory speech tanggal 4 November 2008 lalu di Chicago, Obama telah menyatakan statement jelas, “To those who would tear the world down – we will defeat you. To those who seek peace and security – we support you”. Kalo mau enteng dikomentari, negara mana yang sering bikin air mata penduduk negara lain berlinang dan bercucuran???

Walhasil, Barrack Obama berencana memperlebar peran AS di Afghanistan dengan mengirimkan sebanyak 4.000 pasukan tambahan. Klarifikasi oleh Robert M. Gates, sekretais Pertahanan AS menyatakan bahwa personil tambahan tersebut untuk mensupport proses pelatihan lebih lanjut bagi pasukan AS di Afghan.

Terkait dengan rencana Obama dalam Peran Afghanistan kali ini, terdapat dua perbedaan pendapat antar pejabat teras Gedung Putih; pertama, kelompok yang khawatir bahwa keterlibatan lebih jauh dalam perang Afghanistan memunculkan masalah politik dan militer bagi AS, diwakili oleh Wakil Presiden Obama, Joseph R. Biden Jr. Kedua, ketakutan akan semakin buruknya posisi AS jika pasukan tambahan tidak dikirim segera ke Afghanistan. Namun segenap penasehat Obama sepakat bahwa AS hendak mempersempit kepentingan nasionalnya yakni menangkap dan memberantas habis jaringan Al-Qaeda.

Menilik dari strategi pemerintahan Obama, memang relatif lebih membuka diri. Yakni dengan menarik dukungan secara terbuka dari NATO, Pemerintahan Afghanistan, Pakistan, hingga organ-organ internasional lainnya. Relatif dapat dikatakan, AS sangat berhati-hati dalam mengemas rencana penambahan pasukan ke Afghan tersebut agar tidak menjadi bumerang balik bagi citra internasional AS yang begitu buruk selama pemerintahan Bush. Patut diakui, Obama dan tim dari Demokrat memang hebat dalam image building ini.

Tapi, hendakkah Obama mengulang lagi kesalahan sama yang dilakukan Bush? Akankah dia membayar sejumlah pasuka AS yang mati selama misi membekuk Al-Qaeda dengan 3 atau 4 kali lipat jumlah korban jiwa, persisi seperti invasi AS terhadap Taliban tahun 2002? Ketika ini menjadi pilihan Obama, tidak usah lagi banyak berharap terhadap pemerintahan baru AS. Jika sipil lagi-lagi yang hendak jadi korban, Obama tidak ada bedanya dengan Bush, the President of War.

Topik diskusi pendek ini pertama kali dipublikasikan di notes facebook: http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=77552116416&id=1490270523&index=2 Invasi Amerika Serika ke Taliban tahun 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s