MENAKAR RELEVANSI BALANCE OF POWER

Balance of power adalah salah satu teori hubungan internasional yang menekankan pada efektifitas kontrol terhadap kekuatan sebuah Negara oleh kekuatan Negara-negara lain. Trrminologi balance of power merujuk pada distribusi kapabilitas Negara pesaing maupun aliansi yang ada. Semisal, Amerika Serikat dan Uni Sovyet yang memiliki perseibangan kekuatan yang sama selama masa Perang Dingin tahun 1970an-1980an. Persaingan kedua adidaya tersebut semasa itu, membentuk sebuah keberlangsungan control terhadap perseimbangan kekuatan militer internasional.

Adapun teori Balance Of Power (Keseimbangan kekuatan) memiliki asumsi dasar bahwa ketika sebuah Negara atau aliansi Negara meningkatkan atau mengunakan kekuatannya secara lebih agresif, Negara-negara yang merasa terancam akan merespon dengan meningkatkan kekuatan mereka. Hal ini dikenal dengan istilah counter balancing coalition. Contoh kasus seperti munculnya kekuatan Jerman menjelang Perang Dunia I (tahun 1914-1918) yang memicu formasi koalisi anti-Jerman yang terdiri dari Uni Sovyet, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan beberapa Negara lain.

Signifikasi Balance of Power dalam Hubungan Internasional

Berlandas kepada teori Balance of Power, Negara hendaknya merespon ancaman yang muncul terhadap pertahanan dan keamanannya dengan jalan meningkatkan kapabilitas kekuatan militer sembari melakukan aliansi dengan Negara-negara lain. Kebijakan sebuah Negara dalam usaha membangun aliansi berbasis geo-strategi guna mempertahankan territorial dari ancaman ekspansi dikenal dengan istilah containment policy. Hal ini dapat dilihat secara kongkrit ketika Amerika Serikat menerapkan containment policy terhadap ancaman sosialisme komunis Uni Sovyet dengan melakukan aliansi dengan Negara-negara di kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Berikut juga upaya Amerika Serikat yang menginkatkan kapasitas kekuatan militer dan persenjataannya selama Perang Dingin.

Secara teoritis, balance of power menganggap bahwa perubahan status dan kekuatan internasional khususnya upaya sebuah Negara yang hendak menguasai sebuah kawasan tertentu, akan dapat menstrimulir aksi counter-balancing dari satu Negara atau lebih. Dalam keadaan yang demikian, proses perseimbangan kekuatan dapat mendorong terciptanya dan terjaganya stabilitas hubungan antar Negara yang beraliansi alias merasa terancam.

Terdapat dua keadaan dimana system balance of power dapat berfungsi secara efektif. Pertama, sekelompok Negara dapat membentuk perseimbangan kekuatan ketika aliansi telah mencair. Dengan begitu relative mudah untuk pecah maupun terbentuk kembali tergantung pada landasan pragmatis masing-masing Negara. Hal ini meski harus menafikkan factor nilai, agama, sejarah, hingga bahkan bentuk pemerintahan. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa bisa jadi sebuah Negara memerankan peran dominan dalam counter-balancing sebagai Inggris pada abad XVIII hingga abad XIX.

Kedua, yakni dua Negara berbeda dapat saling melakukan perseimbangan kekuatan dengan cara menyesuaikan kekuatan militer masing-masing antara yang satu dengan yang lain. Kita dapat menilik bagaimana Amerika Serikat dan Uni Sovyet yang secara bersamaan melakukan peningkatan kapabilitas militer untuk saling bersaing memperoleh posisi terkuat di dunia saat Perang Dingin berlangsung.

Sebuah kelemahan telak dari konsep balance of power adalah menilai kekuatan sebuah Negara sebagai ukuran dari sebuah proses perseimbangan kekuatan. Meski dapat dikatakan secara sederhana, seperti yang dipaparkan oleh Morgenthau, penggagas teori balance of power, bahwa kekuatan nasional diukur dari ukuran geografi wilayah, populasi penduduk yang dimiliki, serta tingkat kemajuan teknologi sebuah Negara atau aliansi sebuah kekuatan. Adapun kapasistas ekonomi masih dilihat kabur oleh Morgenthau sendiri karena ekonomi diterjemahkan lebih kepada bagaimana kapabilitas militer dapat terbangun olehnya.

Relevansi Historis Balance of Power

Pada dasarnya teori balance of power memiliki relevansi historis, yang padanya Morgenthau terinspirasi. Selama periode Perang di Cina tahun 403-221 Sebelum Masehi, yakni antara lima Negara di daratan Cina yang saling bersaing kekuatan militer serta hendak saling menguasai antara satu dengan yang lain. Perang Peloponesian tahun 431-404 Sebelum Masehi juga menjadi fakta sejarah yang serupa tentang bagaimana kemunculan kekuatan Atena mengstimulir formasi koalisi Negara Kota sekitar yang terancam.

Persaingan imperium Roma dan Persia selama bertahun-tahun juga dapat menjadi alternative fakta sejarah bagaiman perseimbangan kekuatan antar dua Negara adidaya saling bersaing. Ditambah lagi dinasti Habsburg di abad XVII yang menguasai Austria dan Spanyol yang kala itu mengancam akan mendominasi daratan Eropa. Muncullah koalisi kekuatan antara Swedia, Inggris, Perancis, dan Belanda yang kemudian terlibat dalam perang 30 tahun dari 1618-1648. Koalisi tersebut kemudian mengalahkan imperium Hasburg.

Menakar Relevansi Balance of Power hari ini

Sejak runtuhnya Uni Sovyet menjadi pertanda berakhirnya Perang Dingin dengan adidaya Amerika Serikat. Merujuk kepada teori balance of power, dominasi kekuatan AS akan menstimulir munculnya koalisi baru di dunia internasional. Muncullah yang kita kenal dengan Uni Eropa, yang telah lama didirikan, namun semakin menguat pelembagaannya menjelang akhir abad XX. Berikut pula kekuatan Cina Daratan, Russia, dan Perancis.

Akan tetapi, semua kekuatan dan koalisi tersebut belum signifikan disbanding kekuatan militer AS yang begitu jauh jika hendak dibandingkan dengan lain manapun di belahan dunia. Tendensi koalisi Negara-negara Eropa lebih berwarna dan bermotivasi ekonomi. Jadi, factor kekuatan militer AS tidak menstimulir upaya perseimbangan oleh koalisi Negara-negara lain di dunia, termasuk Eropa bahkan.

Dengan begitu balance of power telah kehilangan salah satu pilar bangunan argumennya yakni bahwa kekuatan militer sebuah Negara akan direnspon balik oleh Negara atau koalisi beberapa Negara yang merasa terancam dengan kekuatan serupa. Eropa justru menerapkan mata uang regional, yang kita kenal dengan Euro, dan bukan penyatuan kekuatan regional dalam hal militer.

Secara lebih ringkas dan gambling, terdapat beberapa irrelevansi teori balance of power dalam konteks kekinian.

1. Kekuatan Militer bukan lagi menjadi perhatian utama Negara bangsa

Di era globalisasi multi dimensional, kecenderungan Negara bangsa berubah drastic. Kekuatan militer tidak lagi menjadi sebuah perhatian utama. Faktor geo-strategi yang dulu menjadi pertimbangan penting begitu memudar secara signifikan akibat perkembangan teknologi informasi dan transportasi. Sebagai gantinya, Negara bangsa lebih memperhatikan bagaimana membangun produktifitas ekonomi dan perdagangan secara lebih terbuka. Jadi bukan lagi untuk menjadi yang terkuat secara militer, namun lebih kepada yang terkuat secara ekonomi.

2. Kecenderungan agresif lebih kepada bidang ekonomi dan perdagangan

Kecenderungan agresif yang digambarkan oleh Balance of power tidak lagi menjadi factual di era sekarang ini. Agresifitas lebih diwarnai dengan upaya membangun pasar baru di Negara luar untuk kebutuhan distribusi barang dan ekspansi modal. Pelembagaan Uni Eropa dengan menyatukan mata uang nya menjadi Euro, merupakan sebuah indicator yang nyata. Disusul kemudian regionalisasi ekonomi kawasan-kawasan baik dalam bentuk Pasar Bebas seperti AFTA, FTA, dan lain sebagainya.

3. Respon counter balancing sangat dipengaruhi oleh factor domestic sebuah Negara

Respon counter balancing tidak berlaku lagi. Meski untuk beberapa kasus masij terjadi seperti perselisihan perbatasan antara India dan Pakistan yang kemudia menimbulkan konstestasi persenjataan antara kedua Negara tersebut. Namun hal ini sangat kasuistik dan diwarnai oleh latar belakang sejarah yang cukup panjang.

2 Comments

Filed under International Relations

2 responses to “MENAKAR RELEVANSI BALANCE OF POWER

  1. Nyalira Wae

    kekuatan ekonomi berbanding lurus dengan kekuatan militer. Jika kekuatan ekonomi konsisten stabil maka suatu negara otomatis akan memperkuat kekuatan militernya sebagai pengawal kekuatan ekonominya. Yang membuat berbeada (antara Amerika & negara lainnya di dunia) pencitraan Amerika oleh opini masyarakat Amerika sendiri sudah kadung terbentuk bahwa AS adalah “a hero state” dan juga oleh para sekutunya. Karena faktanya, secara historikal AS penyelamat PD II atau “tameng” dari aktivitas terorism (walaupun Tragedi WTC luput dari monitor keamanannya).

    So, Balance of Power masih relevan dalam masyarakat internasional karena eksistensi AS masih tetap memilki pengaruh kuat dalam dunia internasional

    • dodikst

      Konsep Economic Linkage memang ada kalanya relevan, seperti kasus Iran yang belakangan mengembangkan uraniumnya. Meski masih sebagai bentuk program nuklir for civic need dan bukan militer dan pertahanan keamanan. Lepas dari perdebatan apakah Iran betul-betul hendak mengembangkan Nuklirnya ataupun tidak, jelasnya faktor sistem pemerintahan dan politik dalam negeri Iran sangat berpengaruh. Berikut juga kondisi kawasan Timur Tengah. Upaya Iran lebih didorong oleh sikap rasialis Israel yang menghina eksistensi negara-negara di Timur Tengah. Meski tindakan Israel hingga sekarang ini belum mendorong munculnya koalisi antar negara Timur Tengah (Arab khususnya) untuk melakukan respon balik dari agresi Israel terhadap Palestina tempo lalu.

      Arab Saudi dan Kuwait yang menjadi penghasil minyak terbesar dunia, secara ekonomi cukup atau lebih kuat dibanding Iran bahkan. Akan tetapi, apakah kedua negara tersebut melakukan upaya penguatan persenjataan sebagaimana AS? Tidak jelasnya. Berarti konsep Economic Lingkage, dimana ekonomi selalu berbanding lurus dengan kekuatan militer, sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel lain seperti faktor dalam negeri sebuah negara bangsa, maupun kondisi kawasan dimana negara tersebut berperan dan mengambil posisi politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s