‘Zero School’ Ilmu Hubungan Internasional

Kelompok Fasisme Nazi dibawah pimpinan Hitler pernah mengklaim bahwa bangsa Arya adalah bangsa paling sempurna. Dengan segala bentuk argumen yang dibangun, bangsa-bangsa lain di muka bumi layak untuk diperbudak dan tunduk terhadap Arya. Doctrin Fuhrer Principle semakin memperparah ganasnya fasisme di tahun-tahun tersebut hingga meletusnya Perang Dunia II.

Pemerintah kekaisaran Jepang pun sama. Sang Kaisar mengajarkan doktrin bahwa Jepang merupakan kiblat dari bumi. Hal ini meski dilatarbelakangi oleh sentimen terhadap ajaran Islam yang mewajibkan seorang muslim untuk sholat menghadap Kiblat yakni Ka’bah di Mekkah Arab Saudi. Wajar saja, doktrin Nippon cahaya Asia pernah kita dengar dalam sejarah invasi Jepang ke negara-negara Asia menjelang perang Dunia II.

Tidak hanya bangsa Arya maupun Jepang yang melakukan hal serupa. Namun juga masyarakat Kuno Jawa pun beranggapan sama. Mereka yakin bahwa pusat dari bumi berada di tanah Djawa (ejaan lama). Dengan begitu, pulau Jawa berikut orang Jawa sangat layak menjadi pemimpin bagi bangsa maupun suku lain. Majapahit merupakan bukti kongkrit betapa sebuah kerajaan di Jawa hendak melakukan perluasaan kekuasaan alias invasi ke kawasan wilayah lain di muka bumi.

Obsesi China Kaisar menguasai dunia, Jengis Khan dari Mongol, Eropa di abad 17-19 an, dan masih banyak lagi. Secara sederhana, sejarah perang selalu terkait dengan sentiment geografis. Perang yang mengakibatkan pertumpahan darah dan menelas biaya waktu, tenaga, bahkan korban jiwa jelas tidak layak dibandingkan dengan ‘iming-iming’ bahwa Cina berkuasa, Mongol berkuasa, Jawa berkuasa, dan sebagainya. Trauma akan invasi dengan cara perang menjadi trauma kemanusiaan tersendiri sejarah bumi ini masih berputar.

Dalam konteks berbeda, wacana phobia invasi semakin menjalar. Tidak hanya dalam bentuk imperialism fisik. Namun juga perihal cara berpikir dan bersikap. Menjelang reformasi 1998 dan keterbukaan informasi serta media, wacana kritis bermunculan di dalam negeri Indonesia. Wabah untuk ‘kritis’ ini menyebar di segenap sendi-sendi pemerintahan dan kemanusiaan. Entah apakah mereka yang menamakan dan dinamakan dirinya ‘kritis’ itu paham dan sadar akan tujuan yang hendak dicapai. Wallahua’lam.

Wacana mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional sendiri tidak luput dari wabah ‘kritis’ tersebut. Munculnya Frankfurt School yang membangun paradigm berpikir kritis, merupakan pakaramula (bahasa daerah Makassar: penyebab) secara tidak langsung. Kemudian disusul dengan munculnya warna pemikiran para akademisi Hubungan Internasional dari Inggris yang kemudian membentuk warna perspektif baru. Enlish School alias madzhab Inggris.

Munculnya reaksi kritis atas beberapa warna pemikiran Eropa maupun Amerika tidaklah salah. Bahkan justru harus didukung sebagai ekspresi keingintahuan intellectual akademisi. Baik pretense untuk menerapkan filsafat skeptic dalam ilmu pengetahuan, melakukan verifikasi sebuah pemikiran, hingga falsifikasinya Popper tidak masalah. Namun bukan berarti didorong oleh semata dorongan intellectual berdasarkan geografi. Semoga bukan karena phobia dengan kata-kata English School, American School, dll yang berbau abab Londo (bau mulut orang penjajah). Jangan sampai kita mengulang dosa para pendahulu.

Semangat untuk membentuk sentrum-sentrum berpikir harus terus disemarakkan. Akan tetapi bukan karena kita berasal dari Jawa, Jakarta, Djatinangor, maupun Makassar. Tapi lebih kepada ekspresi dan kepekaan intelektual seoran akademisi untuk melihat sejauh relevansi sebuah konsep pemikiran hingga memperoleh bentuk kontekstualisasi dalam dunia praktis. Euphoria region schools tersebut akan lebih berarti jika diganti dengan sebuah semangat keterbukaan kritis dalam berpikir dan bertindak.

Imam Syafii menekankan bahwa kita harus mengambil dan mengikuti hal-hal baik dari para pendahulu. Namun kita juga harus mengadopsi dan melakukan transformasi untuk hal-hal yang lebih bernilai hari ini. Keterbukaan kritis merupakan ekspresi bahwa kita masih menerima apa yang baik. Ambillah hikmah dari mana saja datangnya, kata Imam Ali karramallahu wajhahu. Selayaknya kita belajar dari yang telah baik. Dan menemukan hal-hal yang lebih bernilai dan baru. Bukan untuk menggantikan secara keseluruhan. Apalagi sekedar dimotivasi oleh sentiment berbau pemikiran Barat.

It’s not to be ‘our own city school of thoughts’. But it is preferably to be ‘Zero School of thoughts’. Let the critical be critical.

Wallahu A’lam

5 Comments

Filed under Uncategorized

5 responses to “‘Zero School’ Ilmu Hubungan Internasional

  1. masalahnya memang belum ada yang merepresentasikan kita di dalam konstruksi-konstruksi teori hubungan internasional…

    semangat our own city school memang tidak lebih penting dari agenda membangun balance of knowledge…antara “timur” dengan “barat”

  2. tapi ardi sepakat, terkadang motivasi yang berbau sentiment barat memang menjadi warna dalam “impian” membangun sebauh school of thoghts…

    tapi…itu bukan satu-satunya…

    kalau mengingat apayang di kemukakan foucault tentang power-knowledge

    atau social constructivist tentang agen-struktur,…

    bukankah ketidakadilan telah nyata di depan mata….

    apakah kita harus terus membiarkan mereka jadi hegemon??

  3. tapi bukankah sikap skeptikal itu juga didasari oleh smangat menginvasi dan menaklukkan juga bro….
    meski mungkin medianya berbeda dimana pengetahuan menjadi ladangnya tapi bukankah konteksnya tetap sama yaitu eksistensi ke-superioritas-an kelompok A or who ever

    just a thought

    • dodikst

      Selayaknya ilmu pengetahuan tidak dijadikan sebagai intrument ke’superioritasan’ sebagaimana seni berpolitik berlaku di dunia nyata. Meski tidak untuk mengatakan bahwa ide dan pengetahuan itu bebas nilai. Namun lebih penekanannya bahwa sejauh mana seorang individu akademisi maupun praktisi meletakkan secara ‘tepat’ dan juga ‘bertanggunggjawab’ cara pandang dunia (world view) yang menjadi acuan paling dasar dalam berpikir dan bertindak. Tidak dipungkiri banyak pemikiran memang yang orientasinya ‘imperialisme’. Terpenting lagi, jangan sampai ada sikap tidak mau tahu dan berpikiri terbuka jika sebuah bangunan konsepsi dan berpikir relevan pd sebuah konteks, namun tidak relevan atau bahkan membahayakan pada konteks yang berbeda. Harus selalu ada sikap sportif dalam berpikir. Ini yang saya maksud dengan sebuah ‘tanggungjawab’ intellektual’. Sekali lagi maaf, saya tidak pernah berpretensi mengunderestimasi atau bahkan menyalahkan para ‘senior’ pemikir dan akademisi yang telah mendedikasikan energinya terhadap ilmu pengetahuan.

    • dodikst

      Ini khusus untuk bung Ardi, saya sepakat ‘ketidakadilan’ memang jelas nampak didepan mata kita. Pada kasus Indonesia, lebih disebabkan oleh ‘Ketidak mau tahuan’ para pembuat kebijakan dan bukan ‘ketidak tahuan’. Jadi penekanannya lebih pada sikap bertindak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s