Tawuran Mahasiswa dan Peran Institusi Perguruan Tinggi

Tawuran mahasiswa jelas sangat disayangkan. Sebagai generasi muda dengan status menjalani pendidikan tinggi adalah miris jika terlibat dalam kebrutalan. Tidak hanya korban materi dengan rusaknya beberapa fasilitas kampus. Namun juga korban jiwa beberapa kali terjadi. Meski tidak semua mahasiswa sepakat dan ikut tawuran. Rasanya ingin tahu ‘Iblis’ apa gerangan yang bersarang di kepala generasi muda mahasiswa hingga memilih praktek ‘vandalisme’ yang berpola primitive ini.

Pendekatan punishment yang diterapkan oleh manajemen institusi pendidikan tinggi seyogyanya dipertimbangkan kembali. Bukan tidak perlu. Namun akar masalah tawuran yang bersifat kolektif bukan merupakan kesengajaan pribadi. Tapi lebih pada rentannya bangunan struktur sosial generasi muda mahasiswa kita. Jika hukuman scorsing hingga Drop Out (DO) berorientasi pada menciptakan efek jera, maka ia tidak dapat berefek signifikan. Terapi kejut boleh jadi dapat dilakukan. Kapan ada kesempatan lagi, bentrokan antar kubu yang ‘mewarisi’ permusuhan akan terjadi lagi.

Membuka kran komunikasi baik vertical maupun horizontal merupakan hal penting. Vertical dalam arti bahwa pelaku pendidikan tinggi menjadi bagian integral dari dinamisme lembaga kemahasiswaan hingga komunitas-komunitas minat dan bakat. Horizontal dalam bentuk intensnya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dan diikuti oleh latar belakang mahasiswa yang berbeda-beda. Baik institusi, fakultas, hingga jurusan bahkan.

Semangat ataupun ‘mitos’ bahwa mahasiswa adalah agent of control dan tetek bengek masih positif untuk diwariskan. Lepas dari bagaimana penerimaan generasi berikutnya. Pastinya dengan bentuk yang lebih modifkatif dan kreatif. Alias tidak perlu seorang senior harus berbusa-busa mulutnya karena memaparkan materi pergerakan. Jika diperlukan, reorientasi pergerakan dilakukan. Pun bentuk isu perubahan yang diangkat tidak melulu pada tataran diskursus semata. Namun hingga bentuk kongkrit dan motivasi ide konstruktif alias berdasar pemikiran matang.

Disayangkan, moment sekarang ini tidak banyak member ruang bagi hal tersebut. Sikap ‘phobia’ terhadap demo mahasiswa belakangan semakin serius. Alasan kenyamanan transportasi, anarkisme, investasi asing, hingga membocengnya beberapa kelompok kepentingan menjadi penyebab utama. Belum lagi keberadaan antara lembaga mahasiswa dan pejabat perguruan tinggi yang jarang dapat berjalan beriringan untuk dapat bekerja sama.

Lepas dari aktifisme kemahasiswaan, terdapat tugas dan pekerjaan rumah bagi mahasiswa. Image tawuran yang lekat harus dihilangkan. Memang kesan tidak berkontribusi apa-apa. Akan tetapi tidak adanya tawuran dapat menjadi contoh bagi adik-adik pelajar di Sekolah Menegah dan seterusnya. Untuk kemudian tidak perlu lagi energi, waktu, dan materi harus terbuang-buang disebabkan tindakan bodoh alias tawuran.

Belajar bagaimana hidup rukun dan bekerja sama antar kaum terpelajar merupakan agenda umum yang dapat dilakukan. Kegiatan lintas institusi maupun fakultas hingga jurusan bahkan harus semakin ditingkatkan frekuensinya. Kepanitiaan gabungan (joint-committee) dapat diadopsi oleh lembaga kemahasiswaan. Kajian-kajian lintas disiplin ilmu juga dapat menjadi domain menarik bagi para aktifis diskusi kampus. Dengan begitu tidak sekedar tujuan tehnis kegiatan kelembagaan intra kampus yang diupayakan tercapai. Namun juga intensitas komunikasi dan interaksi positif antar komunitas dan institusi, jurusan hingga perguruan tinggi.

Bentuk kegiatan semacam ini dapat bersifat bottom up maupun top-down. Jika berasal dari hasil inisiatif komunitas ataupun lembaga mahasiswa, perlu diberikan perhatian lebih. Bentuk inisiatif top down dapat menjadi pilihan untuk mengeliminir sikap ‘inherited pseudo-enmity’ antar komunitas maupun lembaga intern kampus hingga extern bahkan. Design kegiatannya pun memang memiliki muatan emotional bond building. Semakin tinggi frekuensi kegiatan yang mengambil perhatian pelajar mahasiswa, baik secara pribadi maupun kelembagaan, semakin minim kemungkinan untuk munculnya waktu kosong yang rentan mengarah ke aktifitas negative.

Tantangan yang dihadapi kemudian adalah faktor biaya. Institusi perguruan tinggi memiliki alokasi maksimum tertentu untuk mendukung kegiatan lembaga mahasiswa. Hal ini sangat wajar. Akan tetapi tidak berarti membenarkan sikap acuh terhadap kreatifitas mahasiswa untuk dapat membuat kegiatan-kegiatan positif. Apalagi yang mempunyai kontribusi terhadap agenda pembelajaran dan pengembangan sumber daya manusia. Sikap pro-aktif sekaligus selektif menjadi hal penting oleh para pengambil kebijakan di kampus. Selama ada itikad baik dan komitmen, akan selalu ada alternative jalan menjembatani kendala dalam mendorong produktifitas kegiatan mahasiswa.

1 Comment

Filed under Social Issues

One response to “Tawuran Mahasiswa dan Peran Institusi Perguruan Tinggi

  1. alirusydi

    4 – 5 kali dijelaskan mbaru ngerti..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s