Definisi Diplomasi

Kita sering mendengar istilah diplomasi di berbagai media cetak dan internet. Bagi kalangan akademisi , pengamat, serta praktisi hubungan internasional ataupun politik luar negeri, istilah ini menjadi makanan sehari-hari. Namun bagi khalayak umum, akan muncul sebuah pertanyaan apa sebenarnya definisi diplomasi dan bagaimana sejarah diplomasi. Tulisan singkat ini hendak menjawab kedua pertanyaan tersebut.

Diplomasi berasal dari kata Yunani “diploma”, yang secara harfiah berarti ‘dilipat dua’. Menurut tradisi Yunani kuno, ‘diploma’ merupakan sertifikat kelulusan dari suatu program studi, biasanya dilipat dua. Pada era Imperium Romawi, kata “diploma” digunakan untuk mnggambarkan dokumen resmi perjalanan, seperti paspor dan izin perjalanan di wilayah kerajaan, yang distempel pada dua lempengan logam.

Seiring dengan perjalanan waktu, arti dari ‘diplomasi’ semakin berkembang lebar. Diplomasi dilekatkan dengan dokumen resmi seperti perjanjian dengan suku bangsa asing. Pada tahun 1700an Perancis menyebut lembaga dimana para pejabat perwakilan bertugas dengan nama korps “diplomatique”. Pada era yang sama pula kata “diplomasi” pertama kali diperkenalkan ke dalam bahasa Inggris oleh Edmund Burke tepatnya tahun 1796, yang diserap dari bahasa Perancis “diplomatie”.

Untuk kebutuhan pengayaan akademik (academic enrichment), menarik jelasnya mengutip beberapa referensi ilmiah. Dengan begitu kita dapat memperoleh beberapa alternative sudut pandang dalam mendefinikan kata diplomasi secara istilah. Walhasil, sebuah benang merah koklutif akan member cakupan makna kata yang lebih otentik.

Secara sederhana, diplomasi dapat didefinisikan sebagai seni dan praktik negosiasi antara wakil-wakil dari negara atau sekelompok negara. Istilah ini biasanya merujuk pada diplomasi internasional, dimana hubungan internasional melalui perantasra diplomat profesional terkait isu-isu perdamaian, perdagangan, perang, ekonomi dan budaya. Begitu pula perjanjian internasional yang biasanya dinegosiasikan oleh para diplomat sebelum disetujui oleh politisi nasional dalam negeri.

Encarta Microsoft Student 2008 mendefinisikan kata diplomasi sebagai managemen komunikasi dan hubungan antar bangsa oleh anggota dan segenap aparatur pemerintahan yang terlibat (the management of communication and relationships between nations by members and employees of each nation’s government). Tidak jauh berbeda dengan Advanced Oxford Dictionary 2003 yang mengartikan kata ‘diplomacy’ sebagai aktifitas mengelola hubungan antar Negara berbeda (the activity of managing relations between different countries). Meski secara tehnis kamus terkenal tersebut menambahkan bahwa diplomasi merupakan ketrampilan untuk berurusan dengan orang lain dalam situasi sulit tanpa cara menyakiti maupun offensive (skill in dealing with people in difficult situations without upsetting or offending them).

Lebih jauh lagi, dari sudut pandang social informal, diplomasi dapat dikatakan sebagai tenaga kerja dari kebijaksanaan strategis agar memperoleh keuntungan atau untuk saling menemukan solusi dari sebuah permasalahan yang sedang dihadapi sehingga dapat diterima oleh dua atau banyak pihak. Dan hal ini dilakukan dengan cara halus, sopan, serta tanpa sikap konfrontatif.

Leave a comment

Filed under Diplomacy & Foreign Policy

Judul-Judul Skripsi dan Proposal Penelitian Ilmu Hubungan Internasional

Mengerjakan tugas akhir skripsi dapat dikatakan gampang-gampang susah. Gampang karena sekarang akses informasi dan data relatif terbuka lebar dengan adanya internet. Apalagi jika sebuah kampus didukung dengan fasilitas online library atau virtual library yang memadai. Akan semakin mudah jelasnya. Susah, karena tugas akhir seperti skripsi atau penelitian membutuhan setidaknya 2 hal: pertama, ketekunan, kedua, waktu luang untuk dapat berkonsterasi lebih. Ketekunan dan konsentrasi di waktu luang tersebut sangat tergantung denga kualitas dan jenis hasil penelitian yang diharapkan. Berikut ini beberapa judul skripsi dan proposal penelitian yang boleh jadi memberi inspirasi teman-teman akademisi Ilmu Hubungan Internasional untuk segera memulai tugas akhir tersebut.

1. Peluang dan Tantangan Hubungan Bilateral Iran-Amerika Serikat paska kemenangan Obama.
Ini menjadi judul yang menarik karena beberapa waktu lalu Obama memberikan tawaran kepada Iran untuk sebuah ‘era baru’. Akan tetapi, sikap apatis yang dilontarkan oleh sang Imam Khomeini pada saat perayaan Ultah Revolusi Iran terdengar pesimis dengan keseriusan Obama. Coba baca postingan saya berikut ini: https://interdisciplinary.wordpress.com/2009/03/28/hubungan-bilateral-iran-as-change-we-dont-believe-in/

2. Dampak Krisis Global terhadap Sektor Ekspor Komoditi Indonesia
Mewabahnya krisis global merupakan suatu hal yang serius terhadap stabilitas ekspor nasional ke luar negeri. Menurunnya tingkat permintaan barang dari luar begitu mengkhawatirkan. Wajar saja beberapa eksporting companies melakukan rasionalisasi hingga PHK karyawan untuk efisiensi biaya operasional perusahaan. Telusuri lebih lanjut.

3. Prospek Pemilu 2009 dalam Membangun Citra Demokrasi Nasional di Luar Negeri
Pemilu 2009 merupakan tantangan tersendiri. Tahun 2004 Indonesia pernah mendapat sanjungan internasional karena dapat melaksanakan Pemilu secara damai. Akankan potensi konflilk dengan awal mula Pemilu 2009 ini membawa hal positif atau sebaliknya bagi citra Indonesia di Luar Negeri? Silahkan telusuri lebih jauh.

3 judul skrisi dan proposal penelitian di atas sangat sederhana. Namun semoga hal tersebut dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman akademisi HI untuk segera memulai petualangan intelektual dalam tugas akhir ini. Selamat mencoba. Bon courage.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

MENAKAR RELEVANSI BALANCE OF POWER

Balance of power adalah salah satu teori hubungan internasional yang menekankan pada efektifitas kontrol terhadap kekuatan sebuah Negara oleh kekuatan Negara-negara lain. Trrminologi balance of power merujuk pada distribusi kapabilitas Negara pesaing maupun aliansi yang ada. Semisal, Amerika Serikat dan Uni Sovyet yang memiliki perseibangan kekuatan yang sama selama masa Perang Dingin tahun 1970an-1980an. Persaingan kedua adidaya tersebut semasa itu, membentuk sebuah keberlangsungan control terhadap perseimbangan kekuatan militer internasional.

Adapun teori Balance Of Power (Keseimbangan kekuatan) memiliki asumsi dasar bahwa ketika sebuah Negara atau aliansi Negara meningkatkan atau mengunakan kekuatannya secara lebih agresif, Negara-negara yang merasa terancam akan merespon dengan meningkatkan kekuatan mereka. Hal ini dikenal dengan istilah counter balancing coalition. Contoh kasus seperti munculnya kekuatan Jerman menjelang Perang Dunia I (tahun 1914-1918) yang memicu formasi koalisi anti-Jerman yang terdiri dari Uni Sovyet, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan beberapa Negara lain.

Signifikasi Balance of Power dalam Hubungan Internasional

Berlandas kepada teori Balance of Power, Negara hendaknya merespon ancaman yang muncul terhadap pertahanan dan keamanannya dengan jalan meningkatkan kapabilitas kekuatan militer sembari melakukan aliansi dengan Negara-negara lain. Kebijakan sebuah Negara dalam usaha membangun aliansi berbasis geo-strategi guna mempertahankan territorial dari ancaman ekspansi dikenal dengan istilah containment policy. Hal ini dapat dilihat secara kongkrit ketika Amerika Serikat menerapkan containment policy terhadap ancaman sosialisme komunis Uni Sovyet dengan melakukan aliansi dengan Negara-negara di kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Berikut juga upaya Amerika Serikat yang menginkatkan kapasitas kekuatan militer dan persenjataannya selama Perang Dingin.

Secara teoritis, balance of power menganggap bahwa perubahan status dan kekuatan internasional khususnya upaya sebuah Negara yang hendak menguasai sebuah kawasan tertentu, akan dapat menstrimulir aksi counter-balancing dari satu Negara atau lebih. Dalam keadaan yang demikian, proses perseimbangan kekuatan dapat mendorong terciptanya dan terjaganya stabilitas hubungan antar Negara yang beraliansi alias merasa terancam.

Terdapat dua keadaan dimana system balance of power dapat berfungsi secara efektif. Pertama, sekelompok Negara dapat membentuk perseimbangan kekuatan ketika aliansi telah mencair. Dengan begitu relative mudah untuk pecah maupun terbentuk kembali tergantung pada landasan pragmatis masing-masing Negara. Hal ini meski harus menafikkan factor nilai, agama, sejarah, hingga bahkan bentuk pemerintahan. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa bisa jadi sebuah Negara memerankan peran dominan dalam counter-balancing sebagai Inggris pada abad XVIII hingga abad XIX.

Kedua, yakni dua Negara berbeda dapat saling melakukan perseimbangan kekuatan dengan cara menyesuaikan kekuatan militer masing-masing antara yang satu dengan yang lain. Kita dapat menilik bagaimana Amerika Serikat dan Uni Sovyet yang secara bersamaan melakukan peningkatan kapabilitas militer untuk saling bersaing memperoleh posisi terkuat di dunia saat Perang Dingin berlangsung.

Sebuah kelemahan telak dari konsep balance of power adalah menilai kekuatan sebuah Negara sebagai ukuran dari sebuah proses perseimbangan kekuatan. Meski dapat dikatakan secara sederhana, seperti yang dipaparkan oleh Morgenthau, penggagas teori balance of power, bahwa kekuatan nasional diukur dari ukuran geografi wilayah, populasi penduduk yang dimiliki, serta tingkat kemajuan teknologi sebuah Negara atau aliansi sebuah kekuatan. Adapun kapasistas ekonomi masih dilihat kabur oleh Morgenthau sendiri karena ekonomi diterjemahkan lebih kepada bagaimana kapabilitas militer dapat terbangun olehnya.

Relevansi Historis Balance of Power

Pada dasarnya teori balance of power memiliki relevansi historis, yang padanya Morgenthau terinspirasi. Selama periode Perang di Cina tahun 403-221 Sebelum Masehi, yakni antara lima Negara di daratan Cina yang saling bersaing kekuatan militer serta hendak saling menguasai antara satu dengan yang lain. Perang Peloponesian tahun 431-404 Sebelum Masehi juga menjadi fakta sejarah yang serupa tentang bagaimana kemunculan kekuatan Atena mengstimulir formasi koalisi Negara Kota sekitar yang terancam.

Persaingan imperium Roma dan Persia selama bertahun-tahun juga dapat menjadi alternative fakta sejarah bagaiman perseimbangan kekuatan antar dua Negara adidaya saling bersaing. Ditambah lagi dinasti Habsburg di abad XVII yang menguasai Austria dan Spanyol yang kala itu mengancam akan mendominasi daratan Eropa. Muncullah koalisi kekuatan antara Swedia, Inggris, Perancis, dan Belanda yang kemudian terlibat dalam perang 30 tahun dari 1618-1648. Koalisi tersebut kemudian mengalahkan imperium Hasburg.

Menakar Relevansi Balance of Power hari ini

Sejak runtuhnya Uni Sovyet menjadi pertanda berakhirnya Perang Dingin dengan adidaya Amerika Serikat. Merujuk kepada teori balance of power, dominasi kekuatan AS akan menstimulir munculnya koalisi baru di dunia internasional. Muncullah yang kita kenal dengan Uni Eropa, yang telah lama didirikan, namun semakin menguat pelembagaannya menjelang akhir abad XX. Berikut pula kekuatan Cina Daratan, Russia, dan Perancis.

Akan tetapi, semua kekuatan dan koalisi tersebut belum signifikan disbanding kekuatan militer AS yang begitu jauh jika hendak dibandingkan dengan lain manapun di belahan dunia. Tendensi koalisi Negara-negara Eropa lebih berwarna dan bermotivasi ekonomi. Jadi, factor kekuatan militer AS tidak menstimulir upaya perseimbangan oleh koalisi Negara-negara lain di dunia, termasuk Eropa bahkan.

Dengan begitu balance of power telah kehilangan salah satu pilar bangunan argumennya yakni bahwa kekuatan militer sebuah Negara akan direnspon balik oleh Negara atau koalisi beberapa Negara yang merasa terancam dengan kekuatan serupa. Eropa justru menerapkan mata uang regional, yang kita kenal dengan Euro, dan bukan penyatuan kekuatan regional dalam hal militer.

Secara lebih ringkas dan gambling, terdapat beberapa irrelevansi teori balance of power dalam konteks kekinian.

1. Kekuatan Militer bukan lagi menjadi perhatian utama Negara bangsa

Di era globalisasi multi dimensional, kecenderungan Negara bangsa berubah drastic. Kekuatan militer tidak lagi menjadi sebuah perhatian utama. Faktor geo-strategi yang dulu menjadi pertimbangan penting begitu memudar secara signifikan akibat perkembangan teknologi informasi dan transportasi. Sebagai gantinya, Negara bangsa lebih memperhatikan bagaimana membangun produktifitas ekonomi dan perdagangan secara lebih terbuka. Jadi bukan lagi untuk menjadi yang terkuat secara militer, namun lebih kepada yang terkuat secara ekonomi.

2. Kecenderungan agresif lebih kepada bidang ekonomi dan perdagangan

Kecenderungan agresif yang digambarkan oleh Balance of power tidak lagi menjadi factual di era sekarang ini. Agresifitas lebih diwarnai dengan upaya membangun pasar baru di Negara luar untuk kebutuhan distribusi barang dan ekspansi modal. Pelembagaan Uni Eropa dengan menyatukan mata uang nya menjadi Euro, merupakan sebuah indicator yang nyata. Disusul kemudian regionalisasi ekonomi kawasan-kawasan baik dalam bentuk Pasar Bebas seperti AFTA, FTA, dan lain sebagainya.

3. Respon counter balancing sangat dipengaruhi oleh factor domestic sebuah Negara

Respon counter balancing tidak berlaku lagi. Meski untuk beberapa kasus masij terjadi seperti perselisihan perbatasan antara India dan Pakistan yang kemudia menimbulkan konstestasi persenjataan antara kedua Negara tersebut. Namun hal ini sangat kasuistik dan diwarnai oleh latar belakang sejarah yang cukup panjang.

2 Comments

Filed under International Relations

Prospek Hubungan Bilateral Iran-AS: Change We don’t believe in

Naiknya figur Barrack Obama sebagai presiden Amerika Serikat, membawa menstimulir munculnya harapan membaiknya hubungan bilateral Iran-AS. Slogan Change we believe yang didengungkan oleh Obama berikut partai Demokrat dan para pendukungnya, seolah-olah menjadi angin segar akan prospek positif kedepan bagi kawasan Timur Tengah, khususnya Negara pewaris peradaban Persia Kuno ini. Belum lagi, statement Obama menjelang victory speech yang disampaikan di Chicago pada tanggal 4 November 2008 lalu menyatakan bahwa:

“And to all those watching tonight from beyond our shores, from parliaments and palaces to those who are huddled around radios in the forgotten corners of the world – our stories are singular, but our destiny is shared, and a new dawn of American leadership is at hand.

To those who would tear the world down – we will defeat you. To those who seek peace and security – we support you…And to all those who have wondered if America’s beacon still burns as bright – tonight we proved once more that the true strength of our nation comes not from the might of our arms or the scale of our wealth, but from the enduring power of our ideals: democracy, liberty, opportunity and unyielding hope.

For that is the true genius of America – that America can change-. Our union can be perfected. And what we have already achieved gives us hope for what we can and must achieve tomorrow”

Setelah kurang lebih tiga puluh (30) tahun hubungan Iran-AS mengalami masa suram, menarik halnya untuk melihat perubahan apa yang akan muncul dengan kenaikan Obama. Tulisan singkat hendak menjawab dua pertanyaan dasar yakni; pertama, sejauh mana sebenarnya prospek hubungan Iran-AS paska kenaikan Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat? Kedua, kendala apa saja yang akan menjadi batu sandungan bagi perbaikan hubungan bilateral kedua belah Negara tersebut?

Masa Kelam Iran-AS

Sejak Revolusi Islam di Iran tahun 1979, Amerika Serikat menarik diri menjalin hubungan diplomasi dengan Iran. Rezim Reza Fahlevi yang pro terhadap AS didepak dari pemerintahan, dan kemudian merubah Iran menjadi sebuah Negara agama, menerapkan ajaran-ajaran Islam sebagai dasar dalam pemerintahan dan tata Negara. Kedutaan besar AS di Tehran pun di tutup paksa dan diusir keluar dari tanah Persia.

Meletusnya Peran Iran-Irak pada September 1980 hingga Agustus 1988, semakin memperuncing ketidakharmonisan hubugan Iran-AS. Lepas dari latar belakang perseteruan perbatasan antara Irak-Iran, campur tangan Amerika Serikat yang terang-terangan mendukung rezim Saddam Hussein membuat pemerintahan Iran geram. Meski telah memperoleh resolusi damai dari PBB, keberpihakan internasional terhadap Irak lebih besar dibanding Iran. Dapat dikatakan Iran mengalami isolasi dari dunia internasional akibat revolusi Islam tahun 1979, yang dimotori oleh Amerika Serikat.

Hubugan kedua belah Negara ini sempat mengalami sedikit perbaikan ketika pada akhir tahun 2001 dan 2002, Amerika melancarkan serangan terhadap Taliban di Afghanistan. Akan tetapi kontrak perjanjian yang ada antara kedua belah piha pudar seketika saat Presiden Bush menyatakan Iran sebagai salah satu dari ‘Axil of Evil’ (Poros Setan).

Yang lebih menyakitkan lagi kemudian adalah provokasi Amerika Serika akan kepemilikan Nuklir Iran. Program penyataan uranium yang menjadi sasaran kambing hitam. AS menuding Iran hendak menciptakan kegalauan baru di Timur Tengah.

Sebuah Harapan

Pada hari Jum’at tanggal 6 Maret 209 lalu, Presiden Obama menawarkan sebuah ‘era baru’ (the new beginning) bagi hubungan bilateral kedua belah Negara. Dalam sebuah pidato singkat, Obama menyatakan akan berusaha berkomunikasi dengan para pemimipin Iran berikut penduduk Iran demi mencipta sebuah perbaikan bilateral. Hal ini jelas mengejutkan dunia, khususnya Iran sendiri yang selama 30 tahun mengalami embargo ekonomi oleh adikuasa tersebut.

Menyusul tawaran Obama, Presiden Ahmady Nedjad menyatakan siap untuk berunding dengan Amerika Serikat. Hal ini dia sampaikan dalam sebuah pidato sambutan dalam peringatan Revolusi Islam Iran ke-30 pada tanggal 12 February 2009 di Tehran. Lebih lanjut lagi, Menteri Luar Negeri Iran Manoucher Motakki mengaffirmasi itikad tersebut dengan menekankan perlunya sebuah ‘dialog yang fair’ antara kedua belah Negara.

Batu Sandungan

To be continued

1 Comment

Filed under International Relations

Politik Luar Negeri ‘out of The Box’

Kajian Politik Luar Negeri banyak didominasi oleh isu politik dan militer. Warna tradisional ini merupakan imbas dari peranan kelompok Realisme dalam melihat fenomena politik luar negeri negara bangsa (nation-state).

Konteks historis tesa dasar pendekatan Realis dapat menjadi bahan telaah. Paradigma Realis merujuk pada fakta sejarah persaingan blok Imperium Roma versus Persia, Perang Dunia I & II, hingga persaingan Perang Dingin. Warna politik dan perseteruan militer menjadi objek perhatian utama selama masa tersebut. Yang jelasnya berbeda dengan trend kajian akademik yang belakangan banyak berkembang.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

‘Zero School’ Ilmu Hubungan Internasional

Kelompok Fasisme Nazi dibawah pimpinan Hitler pernah mengklaim bahwa bangsa Arya adalah bangsa paling sempurna. Dengan segala bentuk argumen yang dibangun, bangsa-bangsa lain di muka bumi layak untuk diperbudak dan tunduk terhadap Arya. Doctrin Fuhrer Principle semakin memperparah ganasnya fasisme di tahun-tahun tersebut hingga meletusnya Perang Dunia II.

Pemerintah kekaisaran Jepang pun sama. Sang Kaisar mengajarkan doktrin bahwa Jepang merupakan kiblat dari bumi. Hal ini meski dilatarbelakangi oleh sentimen terhadap ajaran Islam yang mewajibkan seorang muslim untuk sholat menghadap Kiblat yakni Ka’bah di Mekkah Arab Saudi. Wajar saja, doktrin Nippon cahaya Asia pernah kita dengar dalam sejarah invasi Jepang ke negara-negara Asia menjelang perang Dunia II.

Tidak hanya bangsa Arya maupun Jepang yang melakukan hal serupa. Namun juga masyarakat Kuno Jawa pun beranggapan sama. Mereka yakin bahwa pusat dari bumi berada di tanah Djawa (ejaan lama). Dengan begitu, pulau Jawa berikut orang Jawa sangat layak menjadi pemimpin bagi bangsa maupun suku lain. Majapahit merupakan bukti kongkrit betapa sebuah kerajaan di Jawa hendak melakukan perluasaan kekuasaan alias invasi ke kawasan wilayah lain di muka bumi.

Obsesi China Kaisar menguasai dunia, Jengis Khan dari Mongol, Eropa di abad 17-19 an, dan masih banyak lagi. Secara sederhana, sejarah perang selalu terkait dengan sentiment geografis. Perang yang mengakibatkan pertumpahan darah dan menelas biaya waktu, tenaga, bahkan korban jiwa jelas tidak layak dibandingkan dengan ‘iming-iming’ bahwa Cina berkuasa, Mongol berkuasa, Jawa berkuasa, dan sebagainya. Trauma akan invasi dengan cara perang menjadi trauma kemanusiaan tersendiri sejarah bumi ini masih berputar.

Dalam konteks berbeda, wacana phobia invasi semakin menjalar. Tidak hanya dalam bentuk imperialism fisik. Namun juga perihal cara berpikir dan bersikap. Menjelang reformasi 1998 dan keterbukaan informasi serta media, wacana kritis bermunculan di dalam negeri Indonesia. Wabah untuk ‘kritis’ ini menyebar di segenap sendi-sendi pemerintahan dan kemanusiaan. Entah apakah mereka yang menamakan dan dinamakan dirinya ‘kritis’ itu paham dan sadar akan tujuan yang hendak dicapai. Wallahua’lam.

Wacana mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional sendiri tidak luput dari wabah ‘kritis’ tersebut. Munculnya Frankfurt School yang membangun paradigm berpikir kritis, merupakan pakaramula (bahasa daerah Makassar: penyebab) secara tidak langsung. Kemudian disusul dengan munculnya warna pemikiran para akademisi Hubungan Internasional dari Inggris yang kemudian membentuk warna perspektif baru. Enlish School alias madzhab Inggris.

Munculnya reaksi kritis atas beberapa warna pemikiran Eropa maupun Amerika tidaklah salah. Bahkan justru harus didukung sebagai ekspresi keingintahuan intellectual akademisi. Baik pretense untuk menerapkan filsafat skeptic dalam ilmu pengetahuan, melakukan verifikasi sebuah pemikiran, hingga falsifikasinya Popper tidak masalah. Namun bukan berarti didorong oleh semata dorongan intellectual berdasarkan geografi. Semoga bukan karena phobia dengan kata-kata English School, American School, dll yang berbau abab Londo (bau mulut orang penjajah). Jangan sampai kita mengulang dosa para pendahulu.

Semangat untuk membentuk sentrum-sentrum berpikir harus terus disemarakkan. Akan tetapi bukan karena kita berasal dari Jawa, Jakarta, Djatinangor, maupun Makassar. Tapi lebih kepada ekspresi dan kepekaan intelektual seoran akademisi untuk melihat sejauh relevansi sebuah konsep pemikiran hingga memperoleh bentuk kontekstualisasi dalam dunia praktis. Euphoria region schools tersebut akan lebih berarti jika diganti dengan sebuah semangat keterbukaan kritis dalam berpikir dan bertindak.

Imam Syafii menekankan bahwa kita harus mengambil dan mengikuti hal-hal baik dari para pendahulu. Namun kita juga harus mengadopsi dan melakukan transformasi untuk hal-hal yang lebih bernilai hari ini. Keterbukaan kritis merupakan ekspresi bahwa kita masih menerima apa yang baik. Ambillah hikmah dari mana saja datangnya, kata Imam Ali karramallahu wajhahu. Selayaknya kita belajar dari yang telah baik. Dan menemukan hal-hal yang lebih bernilai dan baru. Bukan untuk menggantikan secara keseluruhan. Apalagi sekedar dimotivasi oleh sentiment berbau pemikiran Barat.

It’s not to be ‘our own city school of thoughts’. But it is preferably to be ‘Zero School of thoughts’. Let the critical be critical.

Wallahu A’lam

5 Comments

Filed under Uncategorized

Lowongan Kerja Di Tengah Krisis Global

Setiap individu membutuhkan pekerjaan. Baik untuk orientasi penghidupan secara maupun maupu motif lain. Pekerjaan, professional atau sampingan, secara sederhana dapat disamakan. Ini dilihat dari sudut pandang motif ekonomi sebuah pekerjaan. Yakni dalam hal keperluan individu untuk dapat memperoleh sejumlah penghasilan untuk guna memenuhi kebutuhan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada individu yang memilih sebuah profesi tidak karena uang semata. Namun lebih kepada motif hobbi, keluarga, pengakuan social, dan lain sebagainya. Dengan begitu, orientasi untuk memperoleh penghasilan rutin dalam jumlah tertentu tidak menjadi hal utama. Meski untk kondisi krisis global sekarang ini, bukan momen yang tepat untuk mereka yang memiliki motif unik selain penghasilan hidup. Mengapa? Karena terlalu banyak kaum perkerja dan karyawan yang kehilangan piring nasinya akibat ‘wabah’ PHK yang menggejala.
Pada faktanya, krisis global memperparah angka pengangguran. Laporan International Labor Organization (ILO) menyebutkan 5 juta pengangguran baru selama 2008 atau bertambah sekitar 6,1 persen. Total keseluruhan pengangguran mencapai 189,9 juta jiwa. Jauh lebih buruk dibanding tahun sebelumnya yang masih mampu menyediakan 45 juta lapangan kerja baru.
Jepang, Negara moneter terkuat dunia pun tidak luput dari imbas krisis. http://www.asahi.com mencatat 30.000 karyawan di Jepang dalam proses pemutusan hubungan kerja saat ini ataupun menjelang musim semi mendatang. Menurunnya tingkat konsumsi domestic membuat semakin parah keadaa. Pemerintahan Taro Aso dengan persetuan dewan legislative menyepakati program stimulus sebesar 3 trilyun yen. Hal ini diarahkan untuk menggairahkan kembali mobilitas ekonomi dalam negeri Jepang serta menggenjat pasar luar.

2 Comments

Filed under Uncategorized